Perempuan Memberontak: Perlawanan Perempuan Minangkabau terhadap Kolonialisme Belanda di Sumatera Barat 1908-1942

Dedi Arsa

Abstract


The women play important position against the Dutch colonialism in West Sumatra. The image of women as a representation of tenderness and squeezes were in different with the condition that they can also be radical. This study examined the involvement of Minangkabau women in their struggle towards the colonialism and the consequences they faced against their resistance. It was found that women have special position in the Indonesian struggle opposing the Dutch colonialism in West Sumatra. The image of women who were closely refers to tenderness and squeezing are much differ from it was in colonial era, that they were hard-hearted and radicalism. By using Historical approach this study found that in the nineteenth century there was almost no resistance to colonization involved the women. It did not happen until the twentieth century where women were involved, in the form of a physical (violent) resistance and with a radical-political path. The average resistance figures were imprisoned or thrown away, but each character carried a different fate, half the loneliness in wasted anguish and the other half get the joys from the public.


Keywords


Women, rebellion, Minangkabau women, colonialism

Full Text:

PDF

References


Abbas, A. (n.d.). Kerjasama pengelolaan pasar nagari yang saling menguntungkan (win-win solution) di Kabupaten Padang Pariaman.

Abdullah, T. (1970). Some notes on the Kaba Tjindua Mato: An example of Minangkabau traditional literature. Indonesia, (9), 1–22.

Addiarrahman, A. (2016). Baragiah ka kampuang: Spirit filantropis perantau Sulit Air. Turast: Jurnal Penelitian Dan Pengabdian (e-Journal), 1(1), 67–80.

Agustina, A., Ramadhan, S., & Asri, Y. (2016). Muatan kearifan lokal dalam cerpen mutakhir karya cerpenis Minangkabau. Humanus, 15(1), 14–31.

Akhiruddin, K. M. (2015). Lembaga Pendidikan Islam di Nusantara. Jurnal Tarbiyah, 1(1), 195–219.

Alif, M. (n.d.). Komunikasi antar budaya dalam tata cara pernikahan adat Minangkabau di Kota Banjarbaru (Studi Kasus Tiga Pasangan Berbeda Etnis Antara Etnis Minangkabau dengan Etnis Banjar, dan Jawa). Meta Communication Jurnal Ilmu Komunikasi.

Alif, M., & Si, M. (n.d.). Komunikasi antar budaya dalam pernikahan adat Minangkabau di kota Banjarbaru.

Burhanuddin, J. (2002). Ulama Perempuan Indonesia. Gramedia Pustaka Utama.

Bustan, R. (n.d.). Penagaruh sistem matriliniel terhadap kemandirian Laki-laki Minangkabau.

Chaniago, D. M. (2014). Perempuan bergerak Surat Kabar Soenting Melajoe 1912-1921. Kafaah: Journal of Gender Studies, 4(1), 80–99.

Dzulfikriddin, M. (2010). M. Natsir dalam Sejarah Politik Indonesia: Peran dan Jasa Mohammad Natsir dalam Dua Orde Indonesia. Mizan Pustaka.

Edwar, E. (2010). Pergeseran tanggung jawab mamak kepala waris terhadap anak kemenakan pada masyarakat Pariaman perantauan menurut hukum adat Minangkabau kota Jambi. Universitas Diponegoro.

Esa, Y. M. (n.d.). Kajian yuridis terhadap perkawinan kedua seorang isteri yang ditinggal suami menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri.

Habsari, S. K., Primasita, F. A., & Al Makmum, M. T. (2010). Representasi dominasi perempuan dalam rumah tangga: feminisme atau patriarki?(sebuah analisis tekstual terhadap situasi komedi (sitkom)“suami suami takut isteri”).

Hazleton, L. (2013). Muslim Pertama: Melihat Muhammad Lebih Dekat. Pustaka Alvabet.

Herlina, W. (n.d.). Analisis kedudukan anak laki-laki dan perempuan dalam pembagian harta waris pada adat lampung sai batin di pekon kerbang tinggi pesisir selatan kabupaten Pesisir Barat Provinsi Lampung.

Irwandi, I. (2010). Pergeseran hukum adat dalam pemanfaatan tanah ulayat kaum di Kecamatan Banu Hampu Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Universitas Diponegoro.

Jannah, M., Mahadian, A. B., & Ali, D. S. F. (n.d.). Konstruksi makna merantau pada perempuan perantau Minangkabau (Studi Fenomenologi pada Mahasiswi Perantau Minangkabau Universitas Telkom).

Kahin, A. R. (2005). Dari pemberontakan ke integrasi: Sumatra Barat dan politik Indonesia, 1926-1998. Yayasan Obor Indonesia.

Komaruddin, A. (n.d.). Komunis dalam perspektif Bung Hatta: pandangan dan kritik Bung Hatta terhadap Partai Komunis Indonesia.

Lestari, D. V., Lubis, N. H., & Mulyadi, R. M. (2017). Gaya hidup elite Minangkabau di Afdeeling Agam (1837-1942). Patanjala: Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 9(1), 45–60.

Maarif, A. S. (2009). Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan: sebuah refleksi sejarah. PT Mizan Publika.

Marzuki, S. N. (2016). Relevansi kesejahteraan ekonomi keluarga dengan peningkatan perceraian di Kabupaten Bone. Al-Risalah, 2(2).

Najmi, N., & Ofianto, O. (2016). Perjuangan pendidikan Kartini vs Rahmah El Yunusiyyah bagi perempuan Indonesia: sebuah pendekatan historis dan kultural. Jurnal Sejarah Dan Budaya, 10(1), 75–83.

Purwanto, B. (2001). Historisme baru dan kesadaran dekonstruktif: kajian kritis terhadap historiografi Indonesiasentris. Humaniora, 13(1), 29–44.

Putra, M. (2013). Etikawirausaha adat minang kabau dalam perspektif hukum Islam. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Ricklefs, M. C. (2005). Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004. Penerbit Serambi.

Ronidin, R. (2011). Malin Kundang, ibunya durhaka: Suatu pendekatan genetik. Lingua Didaktika: Jurnal Bahasa Dan Pembelajaran Bahasa, 4(2), 114–125.

Sasmita, S. (2011). Peran Perempuan suku Minangkabau yang menjadi kepala keluarga (PEKKA) bagi penciptaan ketahanan pangan rumah tangga di Kecamatan Padang Timur. Humanus, 10(1), 82–92.

Sasongko, I. (2009). Pengembangan konsep strukturalisme, dari struktur bahasa ke struktur ruang permukiman. Bahasa Dan Seni, 31(2).

Setiaji, A. H. (2011). Wanita Jawa dalam pendidikan kolonial (Studi Sekolah Van Deventer di Mangkunegaran Surakarta). Universitas Sebelas Maret.

Subhan, Z. (2004). Perempuan dan politik dalam Islam. PT LKiS Pelangi Aksara.

Suleman, Z. (2010). Demokrasi untuk Indonesia: Pemikiran politik Bung Hatta. Penerbit Buku Kompas.

Thaher, A. (2006). Sistem pewarisan kekerabatan matrilineal dan perkembangannya di kecamatan Banuhampu pemerintahan kota Agam propinsi Sumatera Barat. program Pascasarjana Universitas Diponegoro.

Van Klinken, G. A., & van Klinken, G. (2007). Perang kota kecil: kekerasan komunal dan demokratisasi di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia.

Waluya, B. (2007). Sosiologi: menyelami fenomena sosial di masyarakat. PT Grafindo Media Pratama.

Zakiah, L. (n.d.). konsep pendidikan perempuan menurut Raden Dewi Sartika.

Zed, M. (2004). Metode peneletian kepustakaan. Yayasan Obor Indonesia.




DOI: http://dx.doi.org/10.15548/jk.v7i1.165

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


      

      

    

Free counters!

free hit counter

Creative Commons License
Kafa'ah: Journal of Gender Studies is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Copyright© 2019 - Kafa`ah: Journal of Gender Studies